Empty

Glifosat, Herbisida Berbahaya dan Fakta Di balik Penggunaannya

Glifosat merupakan bahan aktif herbisida yang bisa membasmi beragam jenis gulma. Glisfosat pertama kali dijual kepada petani pada tahun 1974. Sejak akhir 1970-an, volume penjualan herbisida berbasis glifosat meningkat sekitar 100 kali lipat.

 

Kini, penggunaan glifosat semakin luas dengan adanya tanaman budidaya toleran glifosat. Tapi, fakta-fakta berikut mungkin dapat mengejutkan Anda.

 

Glifosat Sangat Memudahkan Petani, Tapi

Glifosat dan penggunaanya di lahan

Sumber: techexplorist.com

 

Sejak penggunaan glifosat, petani tak perlu lagi banyak menghabiskan waktu di lahan hanya untuk membersihkan gulma. Seiring berjalannya waktu, permintaan akan pembasmi hama dengan kandungan bahan aktif ini pun meningkat.

 

Pada tahun 1996, tahun pertama peluncuran tanaman rekayasa genetik di Amerika Serikat, glifosat menyumbang 3,8% dari total volume bahan aktif herbisida yang digunakan di pertanian. Jumlah ini sangat besar mengingat terdapat ribuan bahan aktif yang digunakan. Tim United States Geographical Survey Systems (USGS) bahkan memproyeksikan bahwa glifosat menyumbang 53,5% dari total penggunaan herbisida pertanian pada 2009.

 

Hati-hati! Ada Residu Glifosat di Makanan

Wilayah warna kuning dan merah adalah wilayah yang melarang penggunaan glifosat

Sumber: organicconsumers.org

 

Karena penggunaannya yang sangat masif, tidak ada komoditas pertanian yang tidak menggunakan glifosat dalam praktiknya. Glifosat banyak digunakan pada berbagai tanaman termasuk padi, jagung, kedelai, tebu, gandum hingga kacang-kacangan lainnya.

 

Aplikasi ke tanaman ini dapat meninggalkan residu glifosat pada semua organ tanaman saat panen bahkan hingga dimasak. Jadi, hati-hatilah dengan apa yang Anda makan!

 

Faktanya, pengujian residu glifosat pernah dilakukan  pada tahun 2012 di Inggris. Dalam pengujian ini ditemukan residu glifosat di atas 0,2 mg/kg dalam 27 dari 109 sampel roti. Pengujian lainnya juga dilakukan oleh Departemen Pertanian Amerika pada tahun 2011. Mereka menemukan 1,9 ppm residu glifosat pada sampel kedelai.

 

Tidak Hanya Kesehatan, Tetapi Membahayakan Tanaman juga

Penggunaan glifosat yang berlebihan dan terus menerus dalam kurun waktu yang lama memunculkan resistensi gulma. Keadaan ini terjadi saat gulma yang ada di pertanaman kita jenuh terhadap glifosat dan kemudian termutasi gennya. Dengan munculnya gulma yang resisten terhadap glifosat, tanaman Anda akan terancam gagal berkompetisi dengan gulma tersebut.

 

Oleh karena itu, penggunaan glifosat tetap harus dibarengi dengan penyiangan secara manual. Hanya saja, tetap ingat untuk menerapkan prinsip kesehatan dan keselamatan kerja di lapangan. Selalu gunakan lengan panjang, sarung tangan, masker, sepatu boot, dan celana panjang untuk menghindari kontak langsung dengan herbisida.

 

Sumber: ncbi.nlm.nih.gov

 

  • Missing Image
    Tanto Saputra
    kl saya menggunakan gramoxone di jalan setiap bedengan apa efek negatifnya? dan apa berpengaruh terhadap kesuburan tanah?