Empty

Bisakah Bertani di Lahan Pekarangan yang Sempit?

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), di tahun 2018 luas lahan sawah hanya 7,1 juta hektare. Luasan ini mengalami penurunan apabila dibandingkan tahun 2017 dengan lahan produktif mencapai 7,75 juta hektare.

 

Alih fungsi lahan menjadi nonpertanian mengakibatkan luas sawah semakin menurun

Sumber : www.lampost.co

 

Untuk memenuhi kebutuhan pangan, memang diperlukan lahan pertanian yang memadai. Namun, meski lahan terbatas, sebenarnya kegiatan bertani masih bisa dilakukan bahkan di pekarangan rumah! Bagaimana caranya?

 

Memenuhi Kebutuhan Pangan Keluarga dari  Bertani di Lahan Pekarangan

 

Dari seorang pensiunan perwira, Sakimin warga Triharjo, Sleman, Yogyakarta memilih untuk mengisi waktu luang masa senjanya dengan bertani. Bukan di lahan sawah yang luas, Sakimin hanya bertani di lahan pekarangan rumah.

 

Lahan pekarangan milik Sakimin yang dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian

 

Berkunjung ke rumah Sakimin, Anda akan melihat pekarangannya yang dipenuhi berbagai jenis tanaman mulai dari cabai, terung, caisim, kangkung hingga tanaman obat seperti kunyit, jahe, dan okra. Berkat hasil tani dari pekarangan rumahnya, Sakimin pun tidak perlu lagi membeli sayuran di pasar hanya untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dari pekarangan rumah seluas kurang lebih 20 meter.

 

“Hari ini masakan cukup dari panen terong dan cabai di depan rumah saja,” ujar Sakimin.

 

Menghasilkan Pupuk Tanaman dari Ayam Kalkun

 

Bertani di lahan pekarangan, Sakimin juga menggunakan pupuk hasil olahannya sendiri. Memelihara enam ekor ayam kalkun, Sakimin mengolah kotoran ayam kalkun tersebut menjadi pupuk tanaman.

 

Kotoran ayam kalkun dicampur dengan jerami dan serbuk gergaji kayu kering untuk membantu proses fermentasi. Setelah dibiarkan beberapa hari, pupuk yang sudah matang dengan kenampakan menyerupai tanah, dapat digunakan untuk memupuk tanaman.

 

Kenampakan pupuk ayam kalkun yang siap untuk digunakan

 

Enam ekor ayam kalkun yang dipelihara oleh Sakimin menghasilkan pupuk yang cukup banyak. Sehingga, ia tidak segan memberikan secara gratis pupuk ayam kalkun tersebut kepada tetangga sekitar rumahnya. Cara ini ia lakukan agar warga sekitar juga tertarik untuk ikut bertani di lahan pekarangan mereka.

 

Bertani di lahan pekarangan bisa dilakukan siapa saja untuk mengurangi ketergantungan akan produk hasil tani di pasar. Tertarik untuk bertani di lahan pekarangan rumah?

    Belum ada komentar