Empty

Yuk Belajar tentang Pisang dari Profesor Asal Bantul Ini!

Indonesia memiliki beragam jenis pisang. Tak hanya buahnya yang bermanfaat dan dapat diolah menjadi berbagai makanan, bakal buah pisang (jantung) pun bisa dimasak menjadi sayur khas di beberapa daerah. Bahkan, daun hingga pelepah pisang juga bisa dimanfaatkan jadi berbagai macam kerajinan.  

 

Lasiyo Syaifuddin, pelopor penanaman pisang di Bantul, Yogyakarta

 

Banyaknya potensi pisang membuat Lasiyo Syaifuddin petani dari Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta berinisiatif untuk melakukan penanaman pisang secara massal. Ide dari Lasiyo ini kemudian terealisasi dengan adanya program pemberdayaan petani dari Dinas Pertanian.  

Melalui program ini, petani difasilitasi untuk merencanakan dan mengelola sendiri kebutuhan belajarnya. Lasiyo pun mengusulkan untuk melakukan pelatihan budidaya pisang dari penangkaran hingga pascapanen.

 

Peraturan Khusus Penanaman Pisang

Kegigihan Lasiyo untuk belajar tentang budidaya pisang, melahirkan Peraturan Desa (Perdes). Saat itu, Lurah setempat mengeluarkan kebijakan tentang penanaman pisang dan dua tahun kemudian perdes tentang penanaman pisang lahir.

“Barang siapa yang menanam pisang satu keluarga itu lebih dari 50, akan disupport (dukung) dana satu batangannya 5000 rupiah. Padahal ketika itu satu batang bibit pisang hanya 2500 rupiah,” ujar Lasiyo menyampaikan isi perdes tersebut.

Adanya perdes ini membuat warga bersemangat untuk menanam pisang, baik di lahan pekarangan maupun di persawahan. Sejalan dengan ini, pelatihan semakin dimasifkan untuk menambah pengetahuan petani pisang di daerah setempat. Ahli-ahli penangkaran benih, pemasaran, pengolahan hasil panen, dan pengemasan produk dihadirkan untuk memberikan pelatihan kepada mereka.

 

Si Profesor Pisang

Lasiyo bukanlah orang baru dalam dunia pertanian. Dia telah memulai kegiatan pertanian sejak tahun 1990-an. Dari awal bertani, Lasiyo merupakan orang yang sangat gigih untuk melakukan beragam percobaan demi mendapat hasil optimal.

“Saya tahun ’92 menanam kedelai itu bisa dikatakan tertinggi hasilnya di sini. Rata-rata 1,8 panenan saya 2,6 dengan tanam jajar legowo dengan jarak tanam jejer wayang,” ujar Lasiyo.

Lasiyo pun telah mendapat banyak prestasi, di antaranya mendapat peringkat II Petani Teladan DIY tahun 2010, Pertani Berprestasi dari Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) 2010, Peringkat II Penerima Penghargaan Ahikarya Pangan Nusantara Tingkat DIY tahun 2013 kategori Pelopor, dan sebagainya. Atas pretasinya tersebut, petani ini telah terbiasa mendapat kunjungan dari berbagai negara.

“Tahun 2000 saya sudah dapat tamu dari luar negeri, diantaranya Afganistan, India, Belanda, termasuk Thailand.”

 Beberapa bulan setelah gempa melanda Yogyakarta di tahun 2007, demi membangkitkan  perekonomian warga pascagempa, ia mulai melakukan budidaya pisang.

 

Produk yang dihasilkan dari penelitian Lasiyo

Sumber : Lasiyo

 

Tak sekedar melakukan budidaya, Lasiyo terus melakukan beragam penelitian. Penelitian tersebut ia lakukan dari coba-coba, hingga menghasilkan bioaktivator alami, zat pengatur tumbuh tanaman dari kucai, pestisida nabati dari beragam tanaman, dan lain-lain. Selain itu, Lasiyo juga berupaya untuk menjaga kelestarian ragam jenis pisang dengan melakukan budidaya berbasis ramah lingkungan.

Penelitian-penelitian Lasiyo mengantarkannya mengikuti pertemuan Salone del Gusto Terra Madre 2016 (SGTM) di Turin, Italia. SGTM sendiri merupakan pertemuan internasional yang menghadirkan para penggerak pangan dan gastronomi yang ramah lingkungan. Dalam acara ini, Lasiyo mempresentasikan kegiatan budidaya pisang lokal miliknya, pembuatan pupuk alami, agen hayati, dan segala produk hasil penelitiannya.

    Belum ada komentar