Empty

Banyak Manfaat, Polong Kakao Sebaiknya Tak Dibuang

Kakao tidak hanya menghasilkan cokelat, tetapi juga produk sampingan berupa limbah. Salah satu limbah padat yang berlimpah adalah polong kakao. Kebanyakan petani membuangnya, padahal polong kakao ini masih bisa diolah.

 

Sedikit Proses Tambahan, Jadilah Pakan Ternak

Polong kakao yang telah dicacah

Sumber: trinicocoa.com

 

Beberapa negara di Afrika Barat seperti Pantai Gading dan Ghana, sudah mengolah polong kakao menjadi pakan ternak. Polong kakao melalui proses pencacahan, pengeringan, dan pengepresan menjadi butiran. Pelet kering digunakan dalam formulasi pakan ternak ini. Uji coba pakan ini telah dilakukan pada domba, babi dan unggas oleh Balai Penelitian Kakao Ghana (Cocoa Research Institute of Ghana). Komposisi nutrisi yang ada di dalam polong kakao sebagai berikut :

 

Kandungan

Persentase (%)

Protein Kasar

6,5

Serat Kasar

27

Abu

8

Ekstrak Eter

4,4

Nitrogen

43

Kalsium

4,8

Kalium

4,2

Kandungan Lain

1,1

 

Kandungan unsur-unsur ini sudah cukup untuk pengganti pakan hijau di ternak berkaki empat maupun pelet dan dedak di ternak berkaki dua.

 

Bisa Jadi Pupuk karena Kaya N, Ca, dan K

Abu kakao dapat menjadi pupuk

 

Polong kakao mengandung serat yang banyak mengandung lignin. Lignin sendiri mengandung banyak N, Ca, dan K. Ketiga unsur ini adalah unsur makro yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. Kebanyakan petani kakao di Indonesia hanya menimbun polong kakao di rorak dan dibiarkan menjadi pupuk.

Namun, supaya pupuk organik polong kakao ini lebih mudah terserap oleh tanaman, sebaiknya dilakukan pencacahan dan fermentasi terlebih dahulu. Cara lain untuk memanfaatakan polong kakao sebagai pupuk adalah dengan membakarnya. Abu polong kakao ini akan menyisakan Kalium saja dalam bentuk potas.

 

Dari Pupuk Jadilah Sabun

Sabun kakao siap cetak

Sumber: bali.litbang.pertanian.go.id

 

Sebenarnya, polong kakao yang dibakar menyisakan potas yang dapat digunakan dalam industri sabun. Abu hasil pembakaran kemudian dicampur dengan air dan disaring. Air abu tersebut dipanaskan hingga membentuk kristal kalium hidroksida (KOH) sebagai bahan dasar. Kristal KOH tersebut kemudian ditambahkan dengan bahan-bahan lain seperti pembusa, emulsi, pewarna makanan, dan parfum. KOH ini sendiri berfungsi sebagai pengental dan pembunuh bakteri.  

Selain mengandung KOH, polong kakao juga mengandung minyak kakao. Minyak ini mengandung vitamin E yang berfungsi sebagai emolien. Emolien merupakan zat yang bermanfaat untuk melembapkan dan melembutkan kulit sehingga bisa mencegah pengerutan dan penuaan. Kini telah banyak muncul sabun yang terbuat dari polong kakao. Salah satunya adalah sabun kakao yang dibuat oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) sejak tahun 2009.

    Belum ada komentar