Empty

Bertani Lancar dengan Kemitraan

Petani hingga kini masih menghadapi beragam masalah ketika melakukan kegiatan pertanian. Permasalahan tersebut meliputi ketersediaan sarana produksi (saprodi) yang tidak selalu ada, sulitnya melakukan pemasaran, hingga harga yang dimainkan oleh tengkulak karena alasan hasil melimpah.

 

Darmo, petani dari Berbah, Yogyakarta

 

Namun, persoalan seperti ini tak perlu dialami oleh Sudarmo, salah satu petani di daerah Berbah, Yogyakarta. Menjadi mitra PT Mitra Sejahtera Membangun Bersama (MSMB), ia bersama beberapa anggota kelompok tani di wilayahnya, tak perlu menghawatirkan ketersediaan saprodi ataupun penjualan hasil tani.

 

Menjadi Petani Mitra PT MSMB

PT MSMB merupakan perusahan yang bergerak di bidang teknologi pertanian dan agribisnis dari hulu ke hilir. Aplikasi RiTx merupakan salah satu produk dari PT MSMB. Selain itu, kemitraan dengan petani juga menjadi salah satu fokus kegiatan yang dilakukan PT MSMB. Petani mendapatkan bantuan pendanaan mulai dari modal, penyediaan saprodi, pendampingan dengan ahli selama masa tanam, hingga jaminan pemasaran hasil tani.

 

Penandatanganan kerjasama antara PT MSMB dengan Sudarmo

 

Sudarmo bersama 6 anggota Kelompok Tani Ngudi Makmur, bermitra dengan PT MSMB untuk pertanian komoditas jagung pada Juli-November 2018. Mereka tak perlu menghawatirkan ketersediaan bibit ataupun  pupuk. Semua sudah dijamin ketersediannya karena PT MSMB bekerja sama dengan toko tani yang akan memenuhi kebutuhan para petani. Mereka pun tak perlu pusing memikirkan upah tenaga kerja untuk pengolahan tanah dan perawatan tanaman.

“Kadang ketika butuh pupuk, barang gak ada. Kalau kerjasama terjamin ketika mau mupuk,” ucap Darmo.

PT MSMB menawarkan dua sistem kemitraan, yaitu dengan bagi hasil atau pemberian modal ditambah 7% dari total seluruhnya. Untuk sistem bagi hasil, petani cukup mengembalikan modal sesuai yang dipinjamkan oleh PT MSMB. Kemudian, pembagian keuntungan dihitung berdasar presentase modal. Untuk sistem kedua, petani mengembalikan sejumlah uang yang dipinjamkan ditambah 7%, tanpa pembagian keuntungan.

PT MSMB menawarkan kemitraan dengan mempertimbangkan kesejahteraan petani. Baik bagi hasil maupun pemberian modal 7%, dikembalikan setelah masa panen. Selain itu, ketika terjadi penurunan hasil dibanding sebelum petani melakukan kerjasama, maka PT MSMB akan menanggung biaya kerugian.

 

Hasil Melimpah

Kelompok tani Ngudi Makmur sebelumnya telah melakukan kerjasama dengan suatu perusahaan yang bergerak di sektor benih. Namun, hasil yang tak maksimal, menjadikan mereka kini beralih menanam jagung konsumsi. Bermitra dengan PT MSMB, hasil produksi jagung  kali ini justru melimpah.

 

 

Dengan luasan lahan mencapai 1,62 hektar, panen kali ini menghasilkan produksi jagung konsumsi lebih dari 18 ton. Menurut Sudarmo, hasil ini cukup bagus, apalagi dengan harga jual yang menguntungkan bagi petani. Sudarmo pun siap untuk bermitra kembali dengan PT MSMB pada musim tanam (MT) berikutnya.

 “Kami siap untuk melakukan kerjasama lagi di MT 3 berikutnya. Karena MT 1 dan MT 2, kami lebih memilih untuk menanam padi yang kemudian disimpan dalam bentuk gabah. Penjualan hanya secukupnya dalam bentuk beras ketika memang memiliki kebutuhan mendesak,” ucapnya.

Persoalan yang dihadapi petani tak bisa mereka selesaikan sendiri. Bantuan dari sektor swasta melalui kemitraan seperti yang dilakukan PT Mitra Sejahtera Membangun Bangsa (MSMB), bisa jadi jalan keluar bagi berbagai permasalahan di sektor pertanian. Bukan sekedar perkara keuntungan, menjamin kerja petani lancar juga bagian dari usaha menyejahterakan mereka.

    Belum ada komentar